Langsung ke konten utama
Bismillahirrahmaanirrahiim

...Demi Pena dan Tinta...

seindah rajutan kata antara koma dan titik

senyaman jahitan selimut penghangat hati

senikmat wangi teh china di pagi hari

sehangat cahaya mentari,
kuning dan wangi

tak sehebat pencipta ayat-ayat Cinta

tak seindah penulis rumah tanpa jendela

tak pula secantik pun seanggun bidadari Syurga

hanya Muslimah Biasa,
mencoba merajut kata

tanpa tulisan...

Dunia ini kosong dan Hampa

tanpa Kata...

halimun pun tak mampu tampak

Tanpa Sastra.,

tak ada juga kata yang terkata

tanpa pujangga..

takkan ada kalimat seindah Syurga

kau bangga bisa Menulis?

Aku Juga,

kau Bahagia bisa Berbagi?

Aku Juga,

menulis itu,seperti...

melukis jejak di punggung Hati

Mengukir Makna dan imajinasi

menyirami hati yang mungkin sakit

saat kau Mati,..

tulisanMU tak turut pergi

saat kau Pergi,..

tulisanMU masih disini

saat kau disini,...

tulisanMU tetap menemani

dan saat kau hanya sendiri,
masih ada dia disini

Menulislah Saja...

Rapuh Hatimu,tuliskanlah saja

Merah Api Asamu,tuliskanlah saja

Tuliskanlah Saja..

Indahnya Menulis

seindah menanti janjimu ya Robbi

seindah Harapan sampai di langit

di syurga bermata Air

untuk yang merakit ilmu dalam kata

menjahit Asa dalam kalimatnya

demi pena dan apa yang di tuliskannya

Tinta pun terpatri dalam Firmannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dalam Al Qur'an Hukum Nun mati dan Tanwin dalam  Al Qur'an berdasarkan ilmu  tajwid  yang terdapat 4 hukum. Hukum ini berlaku jika nun mati atau tanwin tersebut bertemu huruf-huruf tertentu. Tentunya bukan huruf alfabet Indonesia. Hehehh. 4 Hukum tersebut antara lain yakni: Idzhar Halqi Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf  Halqi  (tenggorokan) seperti: alif/hamzah ( ء ), ha' ( ح ), kha' ( خ ), 'ain ( ع ), ghain ( غ ), dan ha' ( ه ), maka ia harus dibaca jelas. artinya tidak boleh disamar-2kan atau didengung-2kan. Contoh:    نَارٌ حَامِيَةٌ (dalam contoh diatas dapat terlihat tanda tanwin pada huruf Ra' bertemu dengan huruf Halqi berupa ha') Idgham Hukum bacaan Idgham terbagi menjadi dua macam, yaitu: 1. Idgham Bighunnah Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf seperti: mim ( م ), nun ( ن ), wau ( و ), dan ya' ( ي ), maka ia harus dibaca melebur (mengikuti huruf didepannya) dengan dengun...

Sejarah Indramayu

Sejarah putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bengelen Jawa Tengah bernama Raden Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran, dalam tapa baratanya di kaki Gunung Sumbing mendapat wangsit. “Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana”. Demikianlah bunyi wangsit itu. R. Wiralodra ditemani Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana. Tokoh-tokoh lain dengan pendiri pedukuhan dimaksud adalah Nyi Endang Darma yang cantik dan sakti, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat putra oleh Putri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati. Ki Buyut Sidum / Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Pajajaran, Pangeran Guru, seorang pangeran ...